عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ
عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ
عِنْدِي مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ
أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا
يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُوَرَّثُ لِلْفُقَرَاءِ
وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ
وَزَادَ عَنْ بِشْرٍ وَالضَّيْفِ ثُمَّ اتَّفَقُوا لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ
وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ صَدِيقًا
غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ زَادَ عَنْ بِشْرٍ قَالَ وَقَالَ مُحَمَّدٌ
غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا
2878.
Dari Ibnu Umar, dia berkata: Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia
mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Aku memperoleh tanah dan tidak
pernah memperoleh (tanah) yang lebih baik dari itu! Apakah yang engkau
perintahkan kepadaku tentang tanah itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah
bersabda, "Jika engkau ingin, wakafkanlah tanah tersebut dan bersedekahlah dengan hasilnya.'" Umar
lalu bersedekah dengan hasil tanah itu. Tanah itu tidak dijual, tidak
dihibahkan, tidak diwariskan kepada fakir miskin, para kerabat, budak,
dan orang yang berjuang di jalan Allah, serta orang yang dalam
perjalanan (tamu), dan tidak dilarang (tidak berdosa) bagi orang yang
mengurusnya untuk memakan hasilnya dengan cara yang baik, dan boleh
memberi makan temannya tanpa memilikinya."
Dalam riwayat lain ditambahkan, "Tanpa memilki tanah tersebut (pokok/modalnya)" (Shahih: Muttafaq 'Alaih)
عَنْ
يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ صَدَقَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَسَخَهَا لِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ هَذَا مَا كَتَبَ عَبْدُ اللَّهِ عُمَرُ فِي ثَمْغٍ
فَقَصَّ مِنْ خَبَرِهِ نَحْوَ حَدِيثِ نَافِعٍ قَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ
مَالًا فَمَا عَفَا عَنْهُ مِنْ ثَمَرِهِ فَهُوَ لِلسَّائِلِ
وَالْمَحْرُومِ قَالَ وَسَاقَ الْقِصَّةَ قَالَ وَإِنْ شَاءَ وَلِيُّ
ثَمْغٍ اشْتَرَى مِنْ ثَمَرِهِ رَقِيقًا لِعَمَلِهِ وَكَتَبَ مُعَيْقِيبٌ
وَشَهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْأَرْقَمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ هَذَا مَا أَوْصَى بِهِ عَبْدُ اللَّهِ عُمَرُ أَمِيرُ
الْمُؤْمِنِينَ إِنْ حَدَثَ بِهِ حَدَثٌ أَنَّ ثَمْغًا وَصِرْمَةَ بْنَ
الْأَكْوَعِ وَالْعَبْدَ الَّذِي فِيهِ وَالْمِائَةَ سَهْمٍ الَّتِي
بِخَيْبَرَ وَرَقِيقَهُ الَّذِي فِيهِ وَالْمِائَةَ الَّتِي أَطْعَمَهُ
مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَادِي تَلِيهِ حَفْصَةُ
مَا عَاشَتْ ثُمَّ يَلِيهِ ذُو الرَّأْيِ مِنْ أَهْلِهَا أَنْ لَا يُبَاعَ
وَلَا يُشْتَرَى يُنْفِقُهُ حَيْثُ رَأَى مِنْ السَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
وَذَوِي الْقُرْبَى وَلَا حَرَجَ عَلَى مَنْ وَلِيَهُ إِنْ أَكَلَ أَوْ
آكَلَ أَوْ اشْتَرَى رَقِيقًا مِنْهُ
2879.
Dari Yahya bin Said, tentang sedekah Umar bin Khaththab, dia berkata:
Abdul Hamid bin Abdullah bin Abdullah bin Umar bin Khaththab
menuliskannya untukku:
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang
Surat ini ditulis oleh hamba Allah, Umar, di Tsamug... lalu dia menceritakannya seperti hadits Nafi'.
Dia
berkata (tentang isi surat Umar), "Tanpa memiliki harta (pokok/modal)
tersebut, adapun jika ada buahnya maka diperuntukkan bagi peminta-minta
dan orang-orang yang membutuhkan. Lalu diceritakanlah kisahnya... dia
berkata, "Apabila pemimpin Tsamug hendak membeli budak dari hasil buah
tanah tersebut untuk mengerjakan tanah tersebut maka diperbolehkan..."
Muaiqib menulis dan disaksikan oleh Abdulullah bin Arqam:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Surat
ini diwasiatkan oleh hamba Allah, Umar Amirul Mukminin —jika terjadi
sesuatu— sesungguhnya tanah di Tsamug, Shirmah bin Akwa', hamba sahaya
yang ada di situ, seratus bagian di wilayah Khaibar dan hamba sahaya
yang berada di situ, serta seratus (hewan atau yang lain) yang diberikan
Rasulllah SAW untuk dimakan di bukit itu, akan tetap pada kekuasaan
Hafshah selagi dia hidup, lalu diteruskan oleh orang-orang yang ahli
dari keluarganya; tidak boleh dijualbelikan dan harus diinfakan untuk
peminta-minta dan orang-orang lemah, atau kerabat. Orang yang
mengurusnya boleh memakan hasilnya atau memberi makan orang lain, atau
membeli budak dari hasil tanah itu. (Shahih dan Jayyid)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar