Senin, 09 Maret 2020

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 17. Memberi Tenggang Waktu dalam Pelunasan Utang Orang yang Sudah Meninggal



عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَاهُ تُوُفِّيَ وَتَرَكَ عَلَيْهِ ثَلَاثِينَ وَسْقًا لِرَجُلٍ مِنْ يَهُودَ فَاسْتَنْظَرَهُ جَابِرٌ فَأَبَى فَكَلَّمَ جَابِرٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَشْفَعَ لَهُ إِلَيْهِ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَلَّمَ الْيَهُودِيَّ لِيَأْخُذَ ثَمَرَ نَخْلِهِ بِالَّذِي لَهُ عَلَيْهِ فَأَبَى عَلَيْهِ وَكَلَّمَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُنْظِرَهُ فَأَبَى وَسَاقَ الْحَدِيثَ

2884. Dari Jabir bin Abdullah: Bapaknya meninggal dunia dan membebankan utang padanya sebanyak tiga puluh wasaq (enam puluh sha') kepada seorang Yahudi. Jabir lalu minta agar Yahudi tersebut memberi tenggang waktu, namun Yahudi tersebut tidak mau, maka Jabir mengadu kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW lalu datang dan meminta Yahudi tersebut untuk mengambil buah kurma Jabir untuk melunasi utangnya, namun Yahudi tersebut tidak mau, maka Rasulullah SAW meminta Yahudi tersebut untuk memberi tenggang waktu, namun Yahudi tersebut tidak mau juga. Jabir menceritakan hadits tersebut sampai akhir....(Shahih:Bukhari)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 16. Status Wasiat Seorang Kafir Harby Kepada Walinya yang Muslim


عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائِلٍ أَوْصَى أَنْ يُعْتِقَ عَنْهُ مِائَةُ رَقَبَةٍ فَأَعْتَقَ ابْنُهُ هِشَامٌ خَمْسِينَ رَقَبَةً فَأَرَادَ ابْنُهُ عَمْرٌو أَنْ يُعْتِقَ عَنْهُ الْخَمْسِينَ الْبَاقِيَةَ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي أَوْصَى بِعَتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ وَإِنَّ هِشَامًا أَعْتَقَ عَنْهُ خَمْسِينَ وَبَقِيَتْ عَلَيْهِ خَمْسُونَ رَقَبَةً أَفَأُعْتِقُ عَنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَوْ كَانَ مُسْلِمًا فَأَعْتَقْتُمْ عَنْهُ أَوْ تَصَدَّقْتُمْ عَنْهُ أَوْ حَجَجْتُمْ عَنْهُ بَلَغَهُ ذَلِكَ

2883. Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash: Ash bin Wall mewasiatkan untuk memerdekakan seratus budak, lalu anaknya yang bernama Hisyam hanya memerdekakan lima puluh budak, namun anaknya yang lain, yang bernama Amru, ingin agar sisanya yang lima puluh dimerdekakan juga. Dia berkata, "Aku akan bertanya pada Rasulullah SAW" Dia lalu mendatangi Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, bapakku mewasiatkan untuk memerdekakan seratus budak, tetapi Hisyam hanya memerdekakan lima puluh budak, jadi apakah aku harus memerdekakan untuknya?" Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya ayahmu seorang muslim, lalu engkau memerdekakkan budak-budak itu untuknya atau engkau bersedekah untuknya atau berhaji untuknya: maka semua itu akan sampai kepadanya." {Hasan)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 15. Meninggal Dunia tanpa Mewasiatkan Sedekah


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَوْلَا ذَلِكَ لَتَصَدَّقَتْ وَأَعْطَتْ أَفَيُجْزِئُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقِي عَنْهَا

2881. Dari Aisyah: Seorang perempuan berkata, "Wahai Rasulullah! Ibuku meninggal dunia secara mendadak. Jika tidak demikian tentu dia akan bersedekah dan memberi sesuatu, maka apakah aku boleh bersedekah untuknya?" Rasulullah SAW bersabda, "Iya, bersedekahlah untuknya.'" {Shahih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ لِي مَخْرَفًا وَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا

2882. Dari Ibnu Abbas: Seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, Ibuku meninggal dunia, apakah berguna jika aku bersedekah untuknya?" Rasulullah SAW bersabda, "Iya" Laki-laki tersebut berkata, "Aku mempunyai sebuah kebun yang sedang berbuah dan aku ingin engkau menyaksikan bahwa aku telah menyedekahkan kebun tersebut untuk ibuku." (Shahih: Bukhari)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 14. Sedekah untuk Mayat


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

2880. Dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda, "Jika seseorang meninggal maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 13. Orang yang Mewakafkan Tanah


عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُوَرَّثُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَزَادَ عَنْ بِشْرٍ وَالضَّيْفِ ثُمَّ اتَّفَقُوا لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ زَادَ عَنْ بِشْرٍ قَالَ وَقَالَ مُحَمَّدٌ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا

2878. Dari Ibnu Umar, dia berkata: Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Aku memperoleh tanah dan tidak pernah memperoleh (tanah) yang lebih baik dari itu! Apakah yang engkau perintahkan kepadaku tentang tanah itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah bersabda, "Jika engkau ingin, wakafkanlah tanah tersebut dan bersedekahlah dengan hasilnya.'" Umar lalu bersedekah dengan hasil tanah itu. Tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, tidak diwariskan kepada fakir miskin, para kerabat, budak, dan orang yang berjuang di jalan Allah, serta orang yang dalam perjalanan (tamu), dan tidak dilarang (tidak berdosa) bagi orang yang mengurusnya untuk memakan hasilnya dengan cara yang baik, dan boleh memberi makan temannya tanpa memilikinya."

Dalam riwayat lain ditambahkan, "Tanpa memilki tanah tersebut (pokok/modalnya)" (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ صَدَقَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَسَخَهَا لِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ هَذَا مَا كَتَبَ عَبْدُ اللَّهِ عُمَرُ فِي ثَمْغٍ فَقَصَّ مِنْ خَبَرِهِ نَحْوَ حَدِيثِ نَافِعٍ قَالَ غَيْرَ مُتَأَثِّلٍ مَالًا فَمَا عَفَا عَنْهُ مِنْ ثَمَرِهِ فَهُوَ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ قَالَ وَسَاقَ الْقِصَّةَ قَالَ وَإِنْ شَاءَ وَلِيُّ ثَمْغٍ اشْتَرَى مِنْ ثَمَرِهِ رَقِيقًا لِعَمَلِهِ وَكَتَبَ مُعَيْقِيبٌ وَشَهِدَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْأَرْقَمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ هَذَا مَا أَوْصَى بِهِ عَبْدُ اللَّهِ عُمَرُ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ إِنْ حَدَثَ بِهِ حَدَثٌ أَنَّ ثَمْغًا وَصِرْمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ وَالْعَبْدَ الَّذِي فِيهِ وَالْمِائَةَ سَهْمٍ الَّتِي بِخَيْبَرَ وَرَقِيقَهُ الَّذِي فِيهِ وَالْمِائَةَ الَّتِي أَطْعَمَهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَادِي تَلِيهِ حَفْصَةُ مَا عَاشَتْ ثُمَّ يَلِيهِ ذُو الرَّأْيِ مِنْ أَهْلِهَا أَنْ لَا يُبَاعَ وَلَا يُشْتَرَى يُنْفِقُهُ حَيْثُ رَأَى مِنْ السَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ وَذَوِي الْقُرْبَى وَلَا حَرَجَ عَلَى مَنْ وَلِيَهُ إِنْ أَكَلَ أَوْ آكَلَ أَوْ اشْتَرَى رَقِيقًا مِنْهُ

2879. Dari Yahya bin Said, tentang sedekah Umar bin Khaththab, dia berkata: Abdul Hamid bin Abdullah bin Abdullah bin Umar bin Khaththab menuliskannya untukku:

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang

Surat ini ditulis oleh hamba Allah, Umar, di Tsamug... lalu dia menceritakannya seperti hadits Nafi'.

Dia berkata (tentang isi surat Umar), "Tanpa memiliki harta (pokok/modal) tersebut, adapun jika ada buahnya maka diperuntukkan bagi peminta-minta dan orang-orang yang membutuhkan. Lalu diceritakanlah kisahnya... dia berkata, "Apabila pemimpin Tsamug hendak membeli budak dari hasil buah tanah tersebut untuk mengerjakan tanah tersebut maka diperbolehkan..."

Muaiqib menulis dan disaksikan oleh Abdulullah bin Arqam:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Surat ini diwasiatkan oleh hamba Allah, Umar Amirul Mukminin —jika terjadi sesuatu— sesungguhnya tanah di Tsamug, Shirmah bin Akwa', hamba sahaya yang ada di situ, seratus bagian di wilayah Khaibar dan hamba sahaya yang berada di situ, serta seratus (hewan atau yang lain) yang diberikan Rasulllah SAW untuk dimakan di bukit itu, akan tetap pada kekuasaan Hafshah selagi dia hidup, lalu diteruskan oleh orang-orang yang ahli dari keluarganya; tidak boleh dijualbelikan dan harus diinfakan untuk peminta-minta dan orang-orang lemah, atau kerabat. Orang yang mengurusnya boleh memakan hasilnya atau memberi makan orang lain, atau membeli budak dari hasil tanah itu. (Shahih dan Jayyid)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 12. Mendapat Warisan berupa Barang yang di Hibahkannya


بُرَيْدَةَ أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ تَصَدَّقْتُ عَلَى أُمِّي بِوَلِيدَةٍ وَإِنَّهَا مَاتَتْ وَتَرَكَتْ تِلْكَ الْوَلِيدَةَ قَالَ قَدْ وَجَبَ أَجْرُكِ وَرَجَعَتْ إِلَيْكِ فِي الْمِيرَاثِ قَالَتْ وَإِنَّهَا مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَيُجْزِئُ أَوْ يَقْضِي عَنْهَا أَنْ أَصُومَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ وَإِنَّهَا لَمْ تَحُجَّ أَفَيُجْزِئُ أَوْ يَقْضِي عَنْهَا أَنْ أَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

2877. Dari Buraidah: Seorang perempuan mendatangi Rasulullah SAW, lalu berkata, "Aku telah menyedekahkan seorang budak perempuan kepada ibuku, lalu ibuku wafat dan meninggalkan (mewariskan) budak tersebut." Rasulullah bersabda, "Engkau berhak atas pahalamu dan budak tersebut kembali padamu sebagai warisan.'''

Perempuan tersebut berkata, "Ibuku meninggal dunia dan dia berkewajiban puasa selama sebulan, apakah boleh jika aku berpuasa untuknya?" Rasulullah bersabda, "Iya." Perempuan tersebut berkata, "Ibuku belum berhaji, apakah boleh jika aku berhaji untuknya?" Rasulullah bersabda, "Iya" {Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 11. Kafan Mayat Harus Diambil dari Harta Miliknya



عَنْ خَبَّابٍ قَالَ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ إِلَّا نَمِرَةٌ كُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَطُّوا بِهَا رَأْسَهُ وَاجْعَلُوا عَلَى رِجْلَيْهِ مِنْ الْإِذْخِرِ

2876. Dari Khabbab, dia berkata: Mush'ab bin Umair terbunuh pada perang Uhud dan dia tidak mempunyai apa-apa kecuali selimut; jika kita menutupi kepalanya dengan itu maka kedua kakinya terbuka dan jika kita menutupi kedua kakinya maka kepalanya terbuka, maka Rasulullah SAW bersabda, "Tutupilah kepalanya dengan selimut itu dan tutupilah kakinya dengan rerumputan yang wangi" {Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 10. Larangan Memakan Harta Anak Yatim



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

2874. Dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan." Beliau kemudian ditanya, "Wahai Rasulullah, apa tujuh perkara itu?" Rasulullah bersabda, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, dan menuduh seorang mukminah yang sudah bersuami berbuat zina." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْكَبَائِرُ فَقَالَ هُنَّ تِسْعٌ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ زَادَ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ الْمُسْلِمَيْنِ وَاسْتِحْلَالُ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا

2875. Dari Umair bin Qatadah Al-Laitsy —sahabat Nabi—: Ada seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, (perbuatan) apa (yang termasuk) dosa besar itu?" Rasulullah lalu bersabda, "(Perbuatan yang termasuk) dosa besar ada sembilan..." lalu perawi hadits menyebutkan makna hadits.

Ditambahkan, "Durhaka terhadap kedua orang tua yang muslim, serta menghalalkan hal yang diharamkan di tanah suci (Makkah) yang menjadi kiblat bagi kalian, baik yang hidup maupun yang telah mati." (Hasan)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 9. Kapan Berakhirnya Status Yatim Seseorang?



قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ حَفِظْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ وَلَا صُمَاتَ يَوْمٍ إِلَى اللَّيْلِ

2873. Dari Ali bin Abi Thalib: Aku menghafal hadits dari Rasulullah SAW, "Tidak ada status yatim setelah ihtilam (mimpi basah) dan tidak diperbolehkan diam tak berbicara dari siang hingga malam." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 8. Hal yang Diperbolehkan bagi Wali Anak Yatim untuk Mengambil Sebagian Harta Anak Yatim Tersebut




عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي فَقِيرٌ لَيْسَ لِي شَيْءٌ وَلِي يَتِيمٌ قَالَ فَقَالَ كُلْ مِنْ مَالِ يَتِيمِكَ غَيْرَ مُسْرِفٍ وَلَا مُبَادِرٍ وَلَا مُتَأَثِّلٍ

2872. Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash: Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu berkata, "Aku adalah orang fakir yang tidak mempunyai apa-apa, sementara aku mengurus seorang anak yatim?" Rasulullah lalu bersabda, "Makanlah sebagian harta anak yatimmu dengan tak berlebihan, tanpa menghamburkan dan tidak mengambil pokok harta itu." (Hasan Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 7. Bercampurnya Anak Yatim dalam Makan



عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ } وَ { إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا } الْآيَةَ انْطَلَقَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ يَتِيمٌ فَعَزَلَ طَعَامَهُ مِنْ طَعَامِهِ وَشَرَابَهُ مِنْ شَرَابِهِ فَجَعَلَ يَفْضُلُ مِنْ طَعَامِهِ فَيُحْبَسُ لَهُ حَتَّى يَأْكُلَهُ أَوْ يَفْسُدَ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ } فَخَلَطُوا طَعَامَهُمْ بِطَعَامِهِ وَشَرَابَهُمْ بِشَرَابِهِ

2871. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat, "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik." (Qs. Al Israa" [17]: 34) dan "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim .... " (Qs. An-Nisaa" [4]: 10) orang yang di sisinya ada anak yatim (menjadi orang tua asuh mereka) segera memisahkan makanannya dari makanan anak yatim, memisahkan minumannya dari minuman anak yatim, lalu melebihkan makanan anak yatim dan tidak menyentuhnya sampai si yatim tersebut memakannya atau makanan itu basi. Hal tersebut membuat mereka merasa berat, maka mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu Allah menurunkan ayat, "Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, 'Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu'" (Qs. Al Baqarah [2]: 220) Mereka pun lalu mencampur makanan dan minuman mereka dengan makanan anak yatim. (Hasan)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 6. Wasiat Kepada Ahli Waris


أَبَا أُمَامَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

2870. Dari Abu Umamah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada orang yang berhak, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris." (Hasan Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 5. Membatalkan Wasiat untuk Kedua Orang Tua dan Para Kerabat


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ } فَكَانَتْ الْوَصِيَّةُ كَذَلِكَ حَتَّى نَسَخَتْهَا آيَةُ الْمِيرَاثِ

2869. Dari Ibnu Abbas, tentang ayat "Apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya." (Qs. Al Baqarah [2]: 180) Seperti itulah wasiat sebelum dinasakh dengan ayat tentang waris. (Hasan Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 4. Berkecimpung dalam Wasiat



عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي فَلَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ

2868. Dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah berkata kepadaku, "Wahai Abu Dzar, aku menilaimu sebagai orang yang lemah dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Janganlah engkau memimpin dua orang dan jangan mengurus harta anak yatim." (Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 3. Larangan Idhrar (Menyakiti) dalam Wasiat



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ تَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

2865. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Seseorang berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, kapan waktu sedekah yang paling afdhal untuk bersedekah?" Rasulullah bersabda, "Engkau sebaiknya bersedekah saat dalam keadaan sehat, bersemangat, mengharapkan hidup lebih lama, dan takut fakir, serta tidak menundanya hingga nyawa telah di kerongkongan." Kamu berkata (berwasiat), "Untuk si fulan begini dan untuk si fulan begitu, sementara untuk si fulan sudah begini." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 2. Hal yang Tidak Diperbolehkan bagi Orang yang Berwasiat terhadap Hartanya


عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ مَرِضَ مَرَضًا قَالَ ابْنُ أَبِي خَلَفٍ بِمَكَّةَ ثُمَّ اتَّفَقَا أَشْفَى فِيهِ فَعَادَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي مَالًا كَثِيرًا وَلَيْسَ يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَتِي أَفَأَتَصَدَّقُ بِالثُّلُثَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَبِالشَّطْرِ قَالَ لَا قَالَ فَبِالثُّلُثِ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَتْرُكَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَخَلَّفُ عَنْ هِجْرَتِي قَالَ إِنَّكَ إِنْ تُخَلَّفْ بَعْدِي فَتَعْمَلَ عَمَلًا صَالِحًا تُرِيدُ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ لَا تَزْدَادُ بِهِ إِلَّا رِفْعَةً وَدَرَجَةً لَعَلَّكَ أَنْ تُخَلَّفَ حَتَّى يَنْتَفِعَ بِكَ أَقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَمْضِ لِأَصْحَابِي هِجْرَتَهُمْ وَلَا تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ لَكِنْ الْبَائِسُ سَعْدُ بْنُ خَوْلَةَ يَرْثِي لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَاتَ بِمَكَّةَ

2864. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash: Di Makkah dia (Sa'ad) menderita sakit yang mendekati kematian. Rasulullah SAW lalu menjenguknya, maka Sa'ad berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta banyak dan tidak ada yang mewarisinya kecuali satu orang putriku, apakah aku harus bersedekah dengan dua pertiganya?" Rasulullah bersabda, "Jangan." Dia bertanya, "Apakah dengan separuhnya?" Rasulullah menjawab, "Jangan." Dia bertanya, "Apakah dengan sepertiganya?" Rasulullah menjawab, "Ya sepertiganya juga sudah banyak. Jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya maka itu akan lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang-orang! Sesungguhnya tidaklah engkau berinfak kecuali akan diberi pahala, hingga sesuap nasi yang engkau suapkan ke mulut istrimu." Dia bertanya, "Wahai Rasulullah, haruskah aku mengakhirkan hijrahku?" Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya jika engkau masih hidup setelahku, lalu engkau berbuat baik karena Allah, maka itu tidak menambah bagimu kecuali satu tingkat dan derajat. Mungkin engkau akan mengakhirkan hijrah, sehingga orang-orang mengambil manfaat darimu dan yang lain mendapat mudharat karenamu." Rasulullah lalu berdoa, "Ya Allah, sempurnakanlah hijrah sahabat-sahabatku dan jangan Engkau kembalikan mereka pada masa lalunya, kecuali Sa'ad bin Khaulah." Rasulullah SAW lalu mendoakan agar ia meninggal di Makkah. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab WASIAT 1. Wasiat yang Diperintahkan


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

2862. Dari Abdullah —putra Umar— dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Tidak layak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang (harus) diwasiatkan untuk bermalam selama dua hari, kecuali wasiatnya ditulis di sisinya." (Shaltih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً وَلَا أَوْصَى بِشَيْءٍ

2863. Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah tidak pernah meninggalkan dinar, dirham, unta, dan kambing, serta tidak mewasiatkan sesuatu. (Shahih: Muslim)